Penggunaan Pupuk Mikroba pada Budidaya Cabai


Pupuk merupakan sarana produksi pertanian yang sangat menentukan pertumbuhan dan produktivitas tanaman terutama di tanah marginal. Penghapusan subsidi pupuk tunggal Urea, TSP/SP-36 dan KCL berdampak meningkatnya harga pupuk konvensional tersebut, sehingga banyak petani yang tidak mampu memupuk tanamannya sesuai anjuran, akibatnya produktivitas menurun.

Untuk mengantisipasi masalah ini, BPTP Padang Marpoyan telah melakukan serangkaian pengkajian untuk mendapatkan pupuk pengganti (alternatif) yang efektif dan efisien pada tanaman cabai. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pupuk mikroba yang dikemas dalam satu paket pemupukan memberikan hasil 18% dan keuntungan 95% lebih tinggi dari pada paket pemupukan konvensional.

Simak juga : Mengatasi Daun Cabai Menguning akibat Virus Kuning

Paket pemupukan mikroba ini terdiri dari pupuk kandang ayam 9250 kg/ha (0,5 kg/pohon), pupuk majemuk NPK 16-16-16 700 kg/ha (38 g/pohon), pupuk majemuk SS/Ammophos 160 kg/ha (8,6 g/pohon) dan kapur Dolomit 500 kg/ha (27 g/pohon) dan pupuk Mikroba 200 kg/ha (11 g/pohon).

1. Bedeng Persemaian 

  • Buat bedengan dan beri naungan yang menghadap arah timur, tinggi naungan kurang lebih 1 meter.
  • Media semai terdiri atas tanah halus dan pupuk kandang yang telah matang dengan perbandingan 1:1.
  • 2 hari sebelum disemai, bedengan ditaburi dengan 30 g Furadan 3 g/meter persegi. Dan disemprot dengan Dithane M45 (1 g/liter air)

2. Persemaian dan Pembibitan

  • Gunakan benih varietas unggul atau varietas lain yang cocok dengan lingkungan setempat.
  • Rendam benih yang akan disemai didalam air hangat kuku selama 1 jam, tiriskan kemudian dikering-anginkan. 
  • Sebarkan benih diatas bedengan secara merata kemudian ditutup dengan media semai secara merata dan tipis. 

3. Pengolahan Tanah 

  • Pengolahan tanah pertama dilakukan dengan bajak atau cangkul, pengolahan kedua sekaligus pembuatan bedengan, parit dan lubang tanam dilakukan dengan cangkul. 
  • Lebar bedengan 120 cm, tinggi 20-30 cm, jarak lubang tanam antar dan dalam barisan 60 cm

4. Pupuk Dasar 

  • Aduk seluruh pupuk kandang, seluruh Dolomit, seluruh pupuk Mikroba dan 75% (525 kg) pupuk NPK sampai tercampur rata (homogen).
  • Masukkan 564 g (kira-kira 2 batok kelapa) bahan tersebut kedalam setiap lubang tanam yang telah disiapkan dan aduk kembali dengan tanah.
  • Biarkan selama paling kurang 15 hari agar pupuk bereaksi dengan tanah dan mikroba berkembang-biak.
  • Usahakan kondisi tanah tetap lembab, jika tidak turun hujan lakukan penyiraman secukupnya. 

5. Penanaman 

  • Pindahkan bibit yang telah berumur 4-5 minggu pada lubang tanam yang telah disiapkan sebelumnya. Pilih bibit yang baik dan pertumbuhannya seragam.
  • Sebarkan kurang lebih 1 g Furadan 3 g/lubang pada saat tanam.
  • Rawat tanaman dengan baik, jika lama tidak turun hujan lakukan penyiraman. 

6. Pupuk Susulan 

  • Pupuk susulan terdiri atas : 175 kg NPK dan 160 kg SS (Ammophos)/ha, yang diberikan dalam 5 tahap.
  • Tahap pertama diberikan pada umur 20 HST (Hari Setelah Tanam) berupa 35 kg NPK dan 32 kg SS/ha.
  • Masukkan 1,5 kg NPK dan 1,4 kg SS kedalam drum yang telah berisi 200 liter air, aduk sampai larut.
  • Siramkan larutan tersebut sebanyak 250 ml/pohon disekitar perakaran tanaman secara kocor menggunakan emrat atau gelas bekas air mineral.
  • Pemupukan susulan ke-2, 3, 4 dan 5 dilakukan dengan dosis dan cara yang sama pada umur 30, 40, 50 dan 60 HST. 

7. Perawatan Tanaman 

  • Terapkan konsep PHT (Pengendalian Hama Terpadu), pestisida hanya digunakan apabila cara-cara lain tidak mempan.
  • Apabila terpaksa menggunakan pestisida, pilihlah yang sesuai dengan jenis organisme pengganggu dan ramah lingkungan.
  • Siram tanaman jika lama tidak turun hujan.

Sumber : BPTP Riau (2001)

Comments